Arne Slot Protes Format Liga Champions Usai Liverpool Kalah

Arne Slot Protes Format Liga Champions Usai Liverpool Kalah

Manajer Liverpool, Arne Slot, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya setelah timnya tersingkir dari Liga Champions oleh Paris Saint-Germain (PSG) di babak 16 besar. 

Slot bahkan menyebut format baru kompetisi ini sebagai sesuatu yang "tidak adil" karena meskipun Liverpool finis sebagai juara fase liga, mereka justru harus menghadapi lawan berat seperti PSG.

Liverpool Terpaksa Hadapi PSG Meski Juara Fase Liga

Liverpool tampil impresif sepanjang fase liga musim ini, mengamankan posisi juara grup yang seharusnya memberi mereka keuntungan menghadapi lawan yang lebih mudah di fase gugur. Namun, kenyataannya jauh dari harapan. 

Alih-alih mendapatkan lawan yang lebih ringan, The Reds justru harus menghadapi PSG, tim yang sedang dalam performa terbaiknya dengan 10 kemenangan beruntun sebelum pertemuan pertama mereka.

PSG sendiri tidak tampil dominan sejak awal musim. Mereka sempat kalah dari Arsenal, Atletico Madrid, dan Bayern Munich, yang membuat mereka finis di posisi 15 fase liga, terpaut delapan poin dari Liverpool

Sebagai akibatnya, PSG harus melewati playoff babak gugur melawan Brest, yang mereka hancurkan dengan agregat 10-0.

Slot: “Format Baru Ini Tidak Adil”

Meskipun kalah, Slot tetap bangga dengan perjuangan timnya. Liverpool sempat meraih kemenangan di leg pertama di Paris, meski pelatih asal Belanda itu mengakui bahwa hasil tersebut sedikit "beruntung"

Sayangnya, di leg kedua di Anfield, gol tunggal Ousmane Dembélé memaksa laga berlanjut ke adu penalti, di mana Gianluigi Donnarumma tampil gemilang dan menjadi pahlawan PSG.

"If you go out then maybe go out against one of the best teams, making a fight of it," kata Slot.

Namun, ia menyoroti ketidakadilan sistem undian yang membuat Liverpool harus menghadapi lawan berat meski finis sebagai pemuncak klasemen.

"Rasanya tidak adil jika setelah menjadi nomor satu di fase grup, kami justru harus menghadapi PSG, salah satu tim terkuat di Eropa."

Keuntungan Finis di Puncak Dipertanyakan

Menurut aturan baru Liga Champions, delapan tim teratas fase liga langsung lolos ke babak 16 besar, sementara tim peringkat 9 hingga 24 harus melewati playoff

Namun, babak 16 besar tetap menggunakan sistem undian, di mana tim peringkat 1 dan 2 dijamin menghadapi tim yang finis tidak lebih tinggi dari peringkat 15.

Barcelona, yang finis sebagai runner-up fase liga di bawah Liverpool, mendapatkan Benfica (peringkat 16) sebagai lawan mereka—sesuatu yang jelas jauh lebih menguntungkan dibandingkan Liverpool yang harus menghadapi PSG.

Slot berharap UEFA mempertimbangkan kembali sistem ini di masa depan.

"Ini sesuatu yang harus dipikirkan kembali oleh UEFA," ujar Slot. "Apa gunanya finis di peringkat pertama jika tetap bisa menghadapi tim sekuat PSG di babak berikutnya? Kami hanya kurang beruntung karena berada di sisi undian yang tidak menguntungkan."

Format Liga Champions Baru Masih Kontroversial

Format baru Liga Champions memang masih menjadi perdebatan. Sistem liga yang menggantikan fase grup tradisional diharapkan bisa memberi keadilan lebih, tetapi kasus seperti yang dialami Liverpool menunjukkan bahwa ada celah dalam sistem ini.

Jika tim peringkat satu tetap bisa bertemu lawan berat, apakah masih ada insentif untuk menjadi juara fase liga?

Liverpool kini harus mengalihkan fokus mereka ke kompetisi domestik, sementara PSG melanjutkan perjuangan mereka di Liga Champions dengan semakin percaya diri.

Arne Slot Protes Format Liga Champions Usai Liverpool Kalah

Arne Slot Protes Format Liga Champions Usai Liverpool Kalah

Manajer Liverpool, Arne Slot, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya setelah timnya tersingkir dari Liga Champions oleh Paris Saint-Germain (PSG) di babak 16 besar. 

Slot bahkan menyebut format baru kompetisi ini sebagai sesuatu yang "tidak adil" karena meskipun Liverpool finis sebagai juara fase liga, mereka justru harus menghadapi lawan berat seperti PSG.

Liverpool Terpaksa Hadapi PSG Meski Juara Fase Liga

Liverpool tampil impresif sepanjang fase liga musim ini, mengamankan posisi juara grup yang seharusnya memberi mereka keuntungan menghadapi lawan yang lebih mudah di fase gugur. Namun, kenyataannya jauh dari harapan. 

Alih-alih mendapatkan lawan yang lebih ringan, The Reds justru harus menghadapi PSG, tim yang sedang dalam performa terbaiknya dengan 10 kemenangan beruntun sebelum pertemuan pertama mereka.

PSG sendiri tidak tampil dominan sejak awal musim. Mereka sempat kalah dari Arsenal, Atletico Madrid, dan Bayern Munich, yang membuat mereka finis di posisi 15 fase liga, terpaut delapan poin dari Liverpool

Sebagai akibatnya, PSG harus melewati playoff babak gugur melawan Brest, yang mereka hancurkan dengan agregat 10-0.

Slot: “Format Baru Ini Tidak Adil”

Meskipun kalah, Slot tetap bangga dengan perjuangan timnya. Liverpool sempat meraih kemenangan di leg pertama di Paris, meski pelatih asal Belanda itu mengakui bahwa hasil tersebut sedikit "beruntung"

Sayangnya, di leg kedua di Anfield, gol tunggal Ousmane Dembélé memaksa laga berlanjut ke adu penalti, di mana Gianluigi Donnarumma tampil gemilang dan menjadi pahlawan PSG.

"If you go out then maybe go out against one of the best teams, making a fight of it," kata Slot.

Namun, ia menyoroti ketidakadilan sistem undian yang membuat Liverpool harus menghadapi lawan berat meski finis sebagai pemuncak klasemen.

"Rasanya tidak adil jika setelah menjadi nomor satu di fase grup, kami justru harus menghadapi PSG, salah satu tim terkuat di Eropa."

Keuntungan Finis di Puncak Dipertanyakan

Menurut aturan baru Liga Champions, delapan tim teratas fase liga langsung lolos ke babak 16 besar, sementara tim peringkat 9 hingga 24 harus melewati playoff

Namun, babak 16 besar tetap menggunakan sistem undian, di mana tim peringkat 1 dan 2 dijamin menghadapi tim yang finis tidak lebih tinggi dari peringkat 15.

Barcelona, yang finis sebagai runner-up fase liga di bawah Liverpool, mendapatkan Benfica (peringkat 16) sebagai lawan mereka—sesuatu yang jelas jauh lebih menguntungkan dibandingkan Liverpool yang harus menghadapi PSG.

Slot berharap UEFA mempertimbangkan kembali sistem ini di masa depan.

"Ini sesuatu yang harus dipikirkan kembali oleh UEFA," ujar Slot. "Apa gunanya finis di peringkat pertama jika tetap bisa menghadapi tim sekuat PSG di babak berikutnya? Kami hanya kurang beruntung karena berada di sisi undian yang tidak menguntungkan."

Format Liga Champions Baru Masih Kontroversial

Format baru Liga Champions memang masih menjadi perdebatan. Sistem liga yang menggantikan fase grup tradisional diharapkan bisa memberi keadilan lebih, tetapi kasus seperti yang dialami Liverpool menunjukkan bahwa ada celah dalam sistem ini.

Jika tim peringkat satu tetap bisa bertemu lawan berat, apakah masih ada insentif untuk menjadi juara fase liga?

Liverpool kini harus mengalihkan fokus mereka ke kompetisi domestik, sementara PSG melanjutkan perjuangan mereka di Liga Champions dengan semakin percaya diri.