Gasperini Geram dengan Kartu Merah di Pertandingan Vs Inter

Gasperini Geram dengan Kartu Merah di Pertandingan Vs Inter

Atalanta harus menerima kekalahan 2-0 dari Inter Milan dalam pertandingan yang seharusnya menjadi kesempatan besar bagi mereka untuk bersaing di puncak klasemen Serie A

Namun, bagi Gian Piero Gasperini, bukan hanya performa timnya yang menjadi sorotan, melainkan juga keputusan wasit yang ia nilai merusak jalannya pertandingan.

Kekalahan yang Menyakitkan, Tapi Atalanta Tidak Kecil Hati

La Dea memasuki pertandingan dengan kepercayaan diri tinggi, menyadari bahwa kemenangan akan membawa mereka sejajar dengan Inter dan Napoli di puncak dengan 61 poin. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain.

Gol pertama Inter datang dari Carlos Augusto yang memanfaatkan sepak pojok Hakan Calhanoglu, tepat setelah pertandingan sempat terhenti selama enam menit akibat keadaan darurat medis di tribun. 

Kemudian, Lautaro Martinez menggandakan keunggulan Nerazzurri dengan tembakan keras yang gagal dibendung Marco Carnesecchi.

Meski kalah, Gasperini menegaskan bahwa timnya tidak kehilangan semangat. "Kami tidak kalah mental dari pertandingan ini. Kami menghadapi salah satu tim terbaik di Eropa dan dunia, bermain dengan keberanian, dan mencoba mendapatkan hasil maksimal," ujar Gasperini kepada DAZN.

Gasperini Kecewa dengan Wasit: "Kartu Merah Itu Menghancurkan Pertandingan!"

Momen paling kontroversial dalam laga ini datang saat Ederson diusir keluar lapangan pada menit ke-71. Gelandang asal Brasil itu menerima kartu kuning pertama karena protes, lalu langsung mendapat kartu kuning kedua setelah memberikan tepuk tangan sarkastik kepada wasit.

Gasperini tidak bisa menahan amarahnya. Beberapa menit kemudian, ia sendiri juga dikartu merah karena protes keras dari pinggir lapangan.

"Kartu merah itu merusak akhir pertandingan, dan itu sangat disayangkan, bukan hanya untuk kami tetapi juga untuk lawan dan semua orang yang menonton," kata Gasperini dengan nada kesal.

"Sejujurnya, itu keputusan yang berlebihan. Ada insiden lain yang lebih parah di babak pertama, tapi wasit tidak bertindak. Ederson memang tidak seharusnya bertepuk tangan dengan sarkastik, tetapi keputusan wasit benar-benar mengacaukan pertandingan. Ada banyak hal yang lebih buruk di sepak bola yang sering diabaikan oleh wasit," tambahnya.

Menurut Gasperini, laga antara peringkat pertama dan ketiga Serie A ini seharusnya berjalan lebih seru hingga akhir, tetapi keputusan tersebut membuat Atalanta kehilangan peluang untuk bangkit.

Masalah Konsentrasi dan Rekor Buruk Atalanta Lawan Inter

Ketika ditanya apakah gol pertama Inter terjadi karena para pemain Atalanta kehilangan konsentrasi setelah pertandingan dihentikan karena keadaan darurat medis, Gasperini tidak mencari alasan.

"Kami tampil bagus dalam duel bola mati di babak pertama, tetapi memang ada jeda panjang akibat insiden di tribun. Itu bukan alasan, kami seharusnya bisa lebih fokus. Tapi, saat pertandingan begitu ketat, momen-momen kecil seperti ini bisa menjadi pembeda," jelasnya.

Atalanta tampaknya masih kesulitan menghadapi Inter, dengan delapan kekalahan beruntun di semua kompetisi melawan tim asuhan Simone Inzaghi itu. Kekalahan ini juga memperpanjang rekor buruk mereka di kandang, dengan enam laga Serie A tanpa kemenangan di Gewiss Stadium, termasuk hasil imbang mengecewakan melawan tim seperti Venezia, Cagliari, dan Torino.

Fokus ke Sisa Musim: "Kami Harus Bangkit!"

Meski begitu, Atalanta masih berada di posisi ketiga klasemen, enam poin di belakang Inter yang memimpin, tetapi unggul lima poin dari Bologna di posisi keempat.

"Dengan jeda internasional yang akan datang, kami harus menemukan kekuatan untuk menjalani sembilan pertandingan terakhir dengan sebaik mungkin," ujar Gasperini.

Ia tetap optimis dengan performa timnya. "Kami bermain dengan keberanian, menciptakan peluang, dan berusaha keras untuk meraih hasil terbaik. Saya pikir para pemain harus bangga dengan performa ini, meskipun hasil akhirnya tidak sesuai harapan."

Dengan musim yang masih menyisakan beberapa pertandingan krusial, Atalanta harus segera bangkit dan mencari solusi, terutama untuk memutus tren buruk mereka melawan Inter dan kembali menunjukkan performa terbaik di kandang sendiri.

Gasperini Geram dengan Kartu Merah di Pertandingan Vs Inter

Gasperini Geram dengan Kartu Merah di Pertandingan Vs Inter

Atalanta harus menerima kekalahan 2-0 dari Inter Milan dalam pertandingan yang seharusnya menjadi kesempatan besar bagi mereka untuk bersaing di puncak klasemen Serie A

Namun, bagi Gian Piero Gasperini, bukan hanya performa timnya yang menjadi sorotan, melainkan juga keputusan wasit yang ia nilai merusak jalannya pertandingan.

Kekalahan yang Menyakitkan, Tapi Atalanta Tidak Kecil Hati

La Dea memasuki pertandingan dengan kepercayaan diri tinggi, menyadari bahwa kemenangan akan membawa mereka sejajar dengan Inter dan Napoli di puncak dengan 61 poin. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain.

Gol pertama Inter datang dari Carlos Augusto yang memanfaatkan sepak pojok Hakan Calhanoglu, tepat setelah pertandingan sempat terhenti selama enam menit akibat keadaan darurat medis di tribun. 

Kemudian, Lautaro Martinez menggandakan keunggulan Nerazzurri dengan tembakan keras yang gagal dibendung Marco Carnesecchi.

Meski kalah, Gasperini menegaskan bahwa timnya tidak kehilangan semangat. "Kami tidak kalah mental dari pertandingan ini. Kami menghadapi salah satu tim terbaik di Eropa dan dunia, bermain dengan keberanian, dan mencoba mendapatkan hasil maksimal," ujar Gasperini kepada DAZN.

Gasperini Kecewa dengan Wasit: "Kartu Merah Itu Menghancurkan Pertandingan!"

Momen paling kontroversial dalam laga ini datang saat Ederson diusir keluar lapangan pada menit ke-71. Gelandang asal Brasil itu menerima kartu kuning pertama karena protes, lalu langsung mendapat kartu kuning kedua setelah memberikan tepuk tangan sarkastik kepada wasit.

Gasperini tidak bisa menahan amarahnya. Beberapa menit kemudian, ia sendiri juga dikartu merah karena protes keras dari pinggir lapangan.

"Kartu merah itu merusak akhir pertandingan, dan itu sangat disayangkan, bukan hanya untuk kami tetapi juga untuk lawan dan semua orang yang menonton," kata Gasperini dengan nada kesal.

"Sejujurnya, itu keputusan yang berlebihan. Ada insiden lain yang lebih parah di babak pertama, tapi wasit tidak bertindak. Ederson memang tidak seharusnya bertepuk tangan dengan sarkastik, tetapi keputusan wasit benar-benar mengacaukan pertandingan. Ada banyak hal yang lebih buruk di sepak bola yang sering diabaikan oleh wasit," tambahnya.

Menurut Gasperini, laga antara peringkat pertama dan ketiga Serie A ini seharusnya berjalan lebih seru hingga akhir, tetapi keputusan tersebut membuat Atalanta kehilangan peluang untuk bangkit.

Masalah Konsentrasi dan Rekor Buruk Atalanta Lawan Inter

Ketika ditanya apakah gol pertama Inter terjadi karena para pemain Atalanta kehilangan konsentrasi setelah pertandingan dihentikan karena keadaan darurat medis, Gasperini tidak mencari alasan.

"Kami tampil bagus dalam duel bola mati di babak pertama, tetapi memang ada jeda panjang akibat insiden di tribun. Itu bukan alasan, kami seharusnya bisa lebih fokus. Tapi, saat pertandingan begitu ketat, momen-momen kecil seperti ini bisa menjadi pembeda," jelasnya.

Atalanta tampaknya masih kesulitan menghadapi Inter, dengan delapan kekalahan beruntun di semua kompetisi melawan tim asuhan Simone Inzaghi itu. Kekalahan ini juga memperpanjang rekor buruk mereka di kandang, dengan enam laga Serie A tanpa kemenangan di Gewiss Stadium, termasuk hasil imbang mengecewakan melawan tim seperti Venezia, Cagliari, dan Torino.

Fokus ke Sisa Musim: "Kami Harus Bangkit!"

Meski begitu, Atalanta masih berada di posisi ketiga klasemen, enam poin di belakang Inter yang memimpin, tetapi unggul lima poin dari Bologna di posisi keempat.

"Dengan jeda internasional yang akan datang, kami harus menemukan kekuatan untuk menjalani sembilan pertandingan terakhir dengan sebaik mungkin," ujar Gasperini.

Ia tetap optimis dengan performa timnya. "Kami bermain dengan keberanian, menciptakan peluang, dan berusaha keras untuk meraih hasil terbaik. Saya pikir para pemain harus bangga dengan performa ini, meskipun hasil akhirnya tidak sesuai harapan."

Dengan musim yang masih menyisakan beberapa pertandingan krusial, Atalanta harus segera bangkit dan mencari solusi, terutama untuk memutus tren buruk mereka melawan Inter dan kembali menunjukkan performa terbaik di kandang sendiri.