Loading, please wait...
Thiago Motta menegaskan bahwa dirinya tidak akan mundur sebagai pelatih Juventus meski timnya kembali menelan kekalahan telak 3-0 dari Fiorentina.
Kekalahan ini merupakan yang kedua secara beruntun, membuat Bianconeri keluar dari empat besar Serie A dan semakin terancam gagal lolos ke Liga Champions musim depan.
Setelah pertandingan di Stadio Franchi, banyak pihak mulai mempertanyakan masa depan Motta. Namun, pelatih asal Italia itu dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak akan mengambil jalan keluar yang mudah dengan mengundurkan diri.
"Mundur? Itu terlalu mudah, dan saya tidak suka hal-hal yang mudah," kata Motta kepada DAZN melalui TMW.
Menurutnya, Juventus masih memiliki peluang untuk mencapai target utama mereka musim ini, yaitu finis di zona Liga Champions.
"Kami harus menemukan cara untuk meraih kemenangan dan mendapatkan poin yang kami butuhkan untuk mencapai target kami, yaitu finis di empat besar," tambahnya.
Motta juga mengakui bahwa Juventus mengalami masalah mentalitas dalam pertandingan terakhir mereka.
"Ini seperti kelanjutan dari pertandingan sebelumnya, cerita yang sama," katanya, merujuk pada kekalahan 0-4 dari Atalanta pekan lalu.
"Kami memulai dengan baik, tetapi ketika menghadapi kesulitan, seperti saat melawan Atalanta, kami gagal merespons. Kami harus meningkatkan diri."
Motta menilai bahwa Juventus saat ini lemah dalam kedua fase permainan, baik menyerang maupun bertahan.
"Hari ini, kami tidak cukup kuat di kedua fase permainan. Kami harus mengembalikan kepercayaan diri para pemain ini. Sebelum dua pertandingan ini, kami menunjukkan karakter yang berbeda, dan reaksi kami selalu bagus," tambahnya.
Saat ini, Juventus duduk di peringkat kelima klasemen Serie A, terpaut satu poin di bawah Bologna yang baru saja mengalahkan Lazio.
Mereka juga sudah tersingkir dari Coppa Italia dan Liga Champions, membuat kompetisi domestik menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan musim mereka.
Thiago Motta masih terikat kontrak hingga Juni 2027, setelah menandatangani kesepakatan tiga tahun dengan Juventus musim panas lalu.
Namun, tekanan terhadapnya semakin besar, dan laga melawan Genoa pada 29 Maret mendatang bisa menjadi titik balik atau justru memperburuk situasi.
Apakah Motta bisa mengembalikan Juventus ke jalur kemenangan, atau apakah krisis ini akan semakin dalam? Jawabannya akan segera terungkap setelah jeda internasional.