Geram Dijadikan Lelucon Waktu Melatih Chelsea, Rosenior Singgung Narasi Medsos!
Mansion Sports – Liam Rosenior akhirnya angkat bicara mengenai sorotan tajam dan ejekan di dunia maya yang mewarnai masa jabatannya yang singkat sebagai pelatih Chelsea.
Ia menegaskan bahwa dirinya bukanlah sosok “bahan lelucon” seperti yang selama ini digambarkan oleh banyak orang.
Pelatih berusia 42 tahun tersebut hanya menghabiskan 107 hari di kursi kepelatihan Stamford Bridge. Ia meyakini bahwa kepergiannya lebih dipengaruhi oleh narasi yang berkembang di luar lapangan daripada kemampuan taktiknya dalam menangani tim.
Narasi Media Lebih Berpengaruh daripada Realitas di Stamford Bridge
Rosenior membalas kritik dari para pengguna media sosial yang menjadikannya bahan ejekan selama masa jabatannya yang singkat dan penuh gejolak sebagai pelatih Chelsea.
Pelatih asal Inggris itu menjadi sasaran meme viral dan olok-olok tanpa henti, mulai dari kesalahannya saat berada di area teknis hingga gaya dan kebiasaannya ketika memberikan instruksi kepada pemain.
Salah satu kejadian yang cukup menarik perhatian melibatkan Estevao Willian. Pemain muda tersebut sempat bercanda dengan sang pelatih setelah sebuah video Rosenior yang gagal mengontrol bola di pinggir lapangan saat menghadapi Arsenal menjadi viral.
Mengenang situasi yang mengiringi kepergiannya, Rosenior menyiratkan bahwa persepsi publik mengenai kepribadiannya justru menjadi pertimbangan yang lebih penting bagi para pengambil keputusan di klub dibandingkan pekerjaan yang sebenarnya ia lakukan bersama skuad di balik layar.
Dalam wawancara dengan majalah Prancis, So Foot, Rosenior menceritakan pengalaman tidak biasa ketika menyaksikan reputasinya perlahan dihancurkan oleh berbagai komentar di dunia maya.
“Sejujurnya, momen yang paling membuat saya khawatir justru terjadi di awal, ketika kami berhasil melewati lima pertandingan beruntun dengan kemenangan. Klub mana pun pasti akan senang dengan pencapaian seperti itu, tetapi tidak dengan Chelsea.
“Ketika Anda mendapatkan hasil bagus, Anda justru menjadi sorotan. Kemudian, muncul semacam efek bola salju di media. Mereka mengejek instruksi yang saya berikan kepada Garnacho melalui secarik kertas ketika kami bermain dengan 10 orang melawan PSG.
“Pakaian yang saya kenakan dijadikan bahan lelucon, begitu juga dengan cara saya berbicara. Saya bukan bahan lelucon!” tegasnya.
Dari Awal yang Menjanjikan hingga Mimpi Buruk di Stamford Bridge
Ejekan terhadap Rosenior mencapai puncaknya ketika Chelsea tersingkir secara memalukan dari Liga Champions saat menghadapi Paris Saint-Germain.
Ia menjadi sasaran berbagai lelucon setelah memberikan catatan taktik kepada Alejandro Garnacho pada menit ke-83, ketika The Blues sedang tertinggal dengan agregat 2-8.
Rosenior hanya bertahan selama 107 hari sebagai pelatih Chelsea setelah direkrut dari klub saudara mereka, Strasbourg, untuk menggantikan Enzo Maresca.
Masa jabatannya sebenarnya dimulai dengan cukup menjanjikan. Ia berhasil membawa Chelsea meraih enam kemenangan dari tujuh pertandingan pertamanya.
Namun, performa tim kemudian merosot drastis. The Blues menelan tujuh kekalahan dalam delapan pertandingan terakhir Rosenior sebelum akhirnya ia dipecat.
Pengalaman Berharga di Tengah Sorotan Publik
Terlepas dari kekecewaan akibat pemecatan dan serangan yang bersifat personal, Rosenior menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak menyesal menerima pekerjaan di salah satu klub yang paling banyak mendapat sorotan di dunia.
Ia memandang periode selama empat bulan tersebut sebagai bagian penting dari perkembangan profesionalnya.
Pengalaman itu juga menjadi bekal berharga yang mengantarkannya pada kesuksesan saat ini bersama Paris FC, yang menempati posisi keempat klasemen Ligue 1 setelah sembilan pertandingan, hanya terpaut tiga poin dari pemuncak klasemen, Paris Saint-Germain.
Rosenior kemudian menjelaskan tekanan yang harus dihadapinya untuk menyesuaikan diri dengan citra tertentu sebagai seorang pelatih.
“Itu adalah pengalaman terbaik dalam hidup saya, sekaligus yang paling sulit. Semuanya terasa luar biasa, meskipun hanya berlangsung selama empat bulan.
“Saya tidak ingin membahasnya secara terperinci sekarang. Suatu hari nanti saya akan membicarakannya ketika waktunya sudah tepat.”
“Namun, di sebuah negara yang menjunjung tinggi toleransi sebagai nilai penting, apa yang terjadi di sana sebenarnya tidak ada hubungannya dengan sepak bola.
“Di Inggris, ada anggapan yang sudah terbentuk sebelumnya mengenai seperti apa seharusnya seorang pelatih Premier League dan bagaimana ia harus bersikap. Anda dituntut untuk menyesuaikan diri dengan standar tersebut.
“Orang-orang yang mengenal saya tahu bahwa saya adalah seseorang yang selalu berusaha bersikap tulus dan menjadi diri sendiri,” jelasnya.
Menemukan Kembali Kepercayaan Diri di Sepak Bola Prancis
Rosenior menutup pernyataannya dengan menyoroti pelajaran penting yang ia dapatkan selama berada di Stamford Bridge. Ia menyadari betapa mudahnya sebuah narasi dibentuk dan memengaruhi pandangan publik terhadap seseorang.
“Namun, saya tidak punya kendali atas bagaimana media menggambarkan atau membicarakan diri saya,” tambahnya.
“Apa yang sekarang saya pahami, dan ini merupakan hal penting bagi semua pelatih di seluruh dunia, adalah bahwa media sosial maupun media secara umum bisa menentukan opini publik mengenai kualitas seorang pemain atau pelatih.
“Tentu saja, hal ini bukan sesuatu yang baru. Namun, pelajaran terbesar yang saya dapatkan selama berada di Chelsea adalah menyadari bahwa media juga mampu membentuk keseluruhan narasi mengenai perjalanan sebuah klub.”
Bagi Rosenior, pengalaman pahit di Chelsea tampaknya telah menjadi pelajaran berharga tentang kerasnya dunia sepak bola modern.
Kini, ia memiliki kesempatan untuk membangun kembali reputasinya bersama Paris FC dan membuktikan kemampuannya tanpa harus terus dibayangi oleh kontroversi selama berada di Stamford Bridge.