Posisi Carrick Diujung Tanduk Usai Performa Buruk Man United

Posisi Carrick Diujung Tanduk Usai Performa Buruk Man United

Mansion Sports – Posisi Michael Carrick sebagai manajer Manchester United kini berada di bawah sorotan tajam setelah timnya mengawali musim baru Premier League dengan hasil yang mengecewakan. 

Ketika Setan Merah masih tertahan di papan bawah klasemen, muncul pengakuan mengenai keraguan Carrick sebelum menerima jabatan di Old Trafford. Hal ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaiannya untuk memimpin klub dalam jangka panjang.

Situasi tersebut semakin menambah tekanan bagi Carrick, yang sebelumnya berhasil membawa Manchester United finis di posisi ketiga pada musim lalu. 

Meski pencapaian itu membuatnya mendapatkan kontrak permanen, performa tim yang tidak konsisten pada awal musim 2026-27 membuat masa depannya kembali menjadi bahan perbincangan.

Awal Musim yang Buruk Memicu Kekhawatiran di Old Trafford

Meski mendapatkan kontrak permanen setelah membawa Manchester United finis di posisi ketiga pada musim lalu, Carrick justru mengalami awal yang sangat sulit pada musim 2026-27.

Setan Merah saat ini menempati posisi ke-13 di Premier League setelah hanya meraih satu kemenangan dalam enam pertandingan pertama mereka.

Harapan untuk bangkit semakin terpukul setelah Manchester United hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan Tottenham Hotspur, yang harus melanjutkan pertandingan dengan 10 pemain.

Kompetisi piala domestik juga tidak memberikan kelegaan bagi United. Brighton secara mengejutkan menyingkirkan mereka dari Piala Liga Inggris pada pertandingan pertama mereka di kompetisi tersebut, sehingga semakin memperburuk suasana di Manchester.

Rentetan hasil mengecewakan ini sangat berbeda dengan optimisme yang sebelumnya menyelimuti penunjukan Carrick sebagai manajer permanen setelah kepergian Ruben Amorim pada awal tahun ini.

Butt Mengungkap Percakapan Jujur dengan Carrick

Seiring meningkatnya tekanan terhadap pria berusia 45 tahun tersebut, mantan rekan setimnya, Nicky Butt, membagikan cerita yang mengungkap pemikiran Carrick sebelum menerima tanggung jawab sebagai manajer Manchester United.

Berbicara dalam siniar The Good, The Bad, and The Football, Butt menjelaskan bahwa pelatih asal Inggris itu awalnya sangat enggan kembali ke kursi kepelatihan.

Mengungkap percakapan pribadi mereka, Butt mengatakan:

"Saya bersama Michael sebelum dia mendapatkan pekerjaan di United dan berbicara dengannya tentang dunia kepelatihan. Dia berkata, 'Tidak, itu bukan untuk saya. Tekanannya terlalu besar dan pikiran saya sedang kacau. Saya hanya akan mengambil pekerjaan besar, dan pekerjaan besar itu adalah United.'"

Pengakuan tersebut memberikan gambaran mengenai keraguan Carrick sebelum mengambil alih salah satu klub terbesar di Inggris. Jabatan manajer Manchester United memang membawa tanggung jawab besar, terutama karena ekspektasi tinggi dari para pendukung dan tuntutan untuk terus bersaing memperebutkan gelar.

Dari Kesuksesan sebagai Pelatih Interim hingga Kembali Menghadapi Masalah Lama

Carrick beralih ke dunia kepelatihan setelah menjalani karier bermain yang gemilang selama 19 tahun. Ia sempat menjabat sebagai pelatih sementara Manchester United pada 2021.

Setelah itu, ia mengambil alih Middlesbrough dan menghabiskan tiga tahun bersama klub yang bermarkas di Riverside tersebut sebelum akhirnya diberhentikan pada akhir musim Championship 2024-25.

Ketika Amorim dipecat pada Januari, manajemen klub memilih Carrick dibandingkan Ole Gunnar Solskjaer untuk mengambil alih tim sebagai manajer interim dengan tujuan menstabilkan situasi.

Keputusan tersebut awalnya terlihat seperti langkah yang sangat tepat karena Manchester United berhasil mengamankan tiket ke Liga Champions. Namun, inkonsistensi yang sudah menjadi masalah klub kembali muncul dan mengganggu perjalanan mereka.

Setelah kekalahan pada laga pembuka melawan Hull City dan satu-satunya kemenangan telak 5-2 atas Ipswich Town, United kesulitan mengendalikan jalannya pertandingan. Mereka mengalami kekalahan tipis dari Manchester City serta kehilangan poin ketika menghadapi Everton, Fulham, dan Tottenham Hotspur.

Melihat rekam jejak Manchester United yang kerap memecat manajer dengan performa buruk di tengah musim, ruang bagi Carrick untuk melakukan kesalahan kini semakin sempit.

Related News

Posisi Carrick Diujung Tanduk Usai Performa Buruk Man United

Posisi Carrick Diujung Tanduk Usai Performa Buruk Man United

Mansion Sports – Posisi Michael Carrick sebagai manajer Manchester United kini berada di bawah sorotan tajam setelah timnya mengawali musim baru Premier League dengan hasil yang mengecewakan. 

Ketika Setan Merah masih tertahan di papan bawah klasemen, muncul pengakuan mengenai keraguan Carrick sebelum menerima jabatan di Old Trafford. Hal ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaiannya untuk memimpin klub dalam jangka panjang.

Situasi tersebut semakin menambah tekanan bagi Carrick, yang sebelumnya berhasil membawa Manchester United finis di posisi ketiga pada musim lalu. 

Meski pencapaian itu membuatnya mendapatkan kontrak permanen, performa tim yang tidak konsisten pada awal musim 2026-27 membuat masa depannya kembali menjadi bahan perbincangan.

Awal Musim yang Buruk Memicu Kekhawatiran di Old Trafford

Meski mendapatkan kontrak permanen setelah membawa Manchester United finis di posisi ketiga pada musim lalu, Carrick justru mengalami awal yang sangat sulit pada musim 2026-27.

Setan Merah saat ini menempati posisi ke-13 di Premier League setelah hanya meraih satu kemenangan dalam enam pertandingan pertama mereka.

Harapan untuk bangkit semakin terpukul setelah Manchester United hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan Tottenham Hotspur, yang harus melanjutkan pertandingan dengan 10 pemain.

Kompetisi piala domestik juga tidak memberikan kelegaan bagi United. Brighton secara mengejutkan menyingkirkan mereka dari Piala Liga Inggris pada pertandingan pertama mereka di kompetisi tersebut, sehingga semakin memperburuk suasana di Manchester.

Rentetan hasil mengecewakan ini sangat berbeda dengan optimisme yang sebelumnya menyelimuti penunjukan Carrick sebagai manajer permanen setelah kepergian Ruben Amorim pada awal tahun ini.

Butt Mengungkap Percakapan Jujur dengan Carrick

Seiring meningkatnya tekanan terhadap pria berusia 45 tahun tersebut, mantan rekan setimnya, Nicky Butt, membagikan cerita yang mengungkap pemikiran Carrick sebelum menerima tanggung jawab sebagai manajer Manchester United.

Berbicara dalam siniar The Good, The Bad, and The Football, Butt menjelaskan bahwa pelatih asal Inggris itu awalnya sangat enggan kembali ke kursi kepelatihan.

Mengungkap percakapan pribadi mereka, Butt mengatakan:

"Saya bersama Michael sebelum dia mendapatkan pekerjaan di United dan berbicara dengannya tentang dunia kepelatihan. Dia berkata, 'Tidak, itu bukan untuk saya. Tekanannya terlalu besar dan pikiran saya sedang kacau. Saya hanya akan mengambil pekerjaan besar, dan pekerjaan besar itu adalah United.'"

Pengakuan tersebut memberikan gambaran mengenai keraguan Carrick sebelum mengambil alih salah satu klub terbesar di Inggris. Jabatan manajer Manchester United memang membawa tanggung jawab besar, terutama karena ekspektasi tinggi dari para pendukung dan tuntutan untuk terus bersaing memperebutkan gelar.

Dari Kesuksesan sebagai Pelatih Interim hingga Kembali Menghadapi Masalah Lama

Carrick beralih ke dunia kepelatihan setelah menjalani karier bermain yang gemilang selama 19 tahun. Ia sempat menjabat sebagai pelatih sementara Manchester United pada 2021.

Setelah itu, ia mengambil alih Middlesbrough dan menghabiskan tiga tahun bersama klub yang bermarkas di Riverside tersebut sebelum akhirnya diberhentikan pada akhir musim Championship 2024-25.

Ketika Amorim dipecat pada Januari, manajemen klub memilih Carrick dibandingkan Ole Gunnar Solskjaer untuk mengambil alih tim sebagai manajer interim dengan tujuan menstabilkan situasi.

Keputusan tersebut awalnya terlihat seperti langkah yang sangat tepat karena Manchester United berhasil mengamankan tiket ke Liga Champions. Namun, inkonsistensi yang sudah menjadi masalah klub kembali muncul dan mengganggu perjalanan mereka.

Setelah kekalahan pada laga pembuka melawan Hull City dan satu-satunya kemenangan telak 5-2 atas Ipswich Town, United kesulitan mengendalikan jalannya pertandingan. Mereka mengalami kekalahan tipis dari Manchester City serta kehilangan poin ketika menghadapi Everton, Fulham, dan Tottenham Hotspur.

Melihat rekam jejak Manchester United yang kerap memecat manajer dengan performa buruk di tengah musim, ruang bagi Carrick untuk melakukan kesalahan kini semakin sempit.

Related News