Loading, please wait...
CDM Terbaik di Dunia - Dalam dunia sepak bola, posisi gelandang bertahan atau defensive midfielder (CDM) sering kali luput dari perhatian.
Padahal, peran mereka sangat krusial. Mereka adalah perisai pertama bagi lini pertahanan, penghancur serangan lawan, dan pengatur tempo permainan.
Tanpa CDM yang solid, tim bisa dengan mudah kehilangan keseimbangan di lini tengah. Sepanjang sejarah, ada beberapa pemain yang benar-benar mendominasi posisi ini dan menjadi tulang punggung tim mereka.
Berikut adalah CDM terbaik di dunia yang telah mengubah cara peran gelandang bertahan dimainkan versi Mansion Sports!
Lothar Matthäus bukan sekadar gelandang bertahan biasa. Ia adalah pemimpin sejati yang bisa bermain di berbagai posisi, termasuk sebagai gelandang box-to-box dan sweeper.
Pemain asal Jerman ini merupakan otak di lini tengah, terkenal dengan visi bermain, umpan akurat, serta kesadaran taktis yang luar biasa.
Sebagai kapten, Matthäus memimpin Jerman meraih kemenangan di Piala Dunia 1990, yang sekaligus membawanya memenangkan Ballon d’Or pada tahun yang sama.
Di level klub, ia sukses bersama Bayern Munich dan Inter Milan, menambahkan sederet trofi seperti 6 gelar Bundesliga dan 1 trofi Serie A.
Warisan Matthäus sebagai CDM terbaik di dunia tak perlu diragukan lagi. Ia adalah pemain yang menginspirasi banyak gelandang bertahan modern.
Tidak banyak CDM yang bisa memadukan kekuatan bertahan dengan teknik bermain yang elegan, tetapi Frank Rijkaard adalah pengecualian.
Pemain asal Belanda ini adalah gelandang bertahan yang memiliki segalanya – kuat dalam duel, cerdas dalam membaca permainan, dan nyaman membawa bola.
Rijkaard menjadi bagian penting dari kesuksesan AC Milan di era Arrigo Sacchi, membentuk trio lini tengah legendaris bersama Ruud Gullit dan Carlo Ancelotti.
Di level internasional, ia membantu Timnas Belanda menjuarai Euro 1988, trofi internasional utama pertama bagi negaranya.
Sebagai CDM, Rijkaard tak hanya bertugas memotong serangan lawan tetapi juga menjadi penghubung antara lini belakang dan lini depan. Tak heran, ia masuk daftar CDM terbaik di dunia sepanjang masa.
Kalau bicara soal gelandang bertahan yang bisa mengontrol tempo permainan, Sergio Busquets adalah jawabannya.
Pemain Spanyol ini tidak memiliki kecepatan atau fisik yang luar biasa, tetapi otaknya bekerja lebih cepat dari siapa pun di lapangan.
Busquets adalah bagian kunci dari era emas Barcelona dan Timnas Spanyol. Ia menjadi pilar utama dalam sistem tiki-taka yang mengandalkan umpan-umpan pendek dan penguasaan bola.
Dengan kemampuan membaca permainan, intersep bola yang tajam, serta ketenangan dalam mengalirkan bola, ia membantu timnya meraih Piala Dunia 2010, Euro 2012, dan 3 trofi Liga Champions.
Tanpa Busquets, Barcelona dan Spanyol mungkin tidak akan mencapai dominasi seperti yang kita kenal. Ia adalah salah satu CDM terbaik di dunia yang mengubah cara bermain di posisi ini.
Baca Juga: “CAM Terbaik di Dunia: Playmaker yang Menguasai Lapangan”
Jika ada satu pemain yang benar-benar mendefinisikan ulang posisi CDM, itu adalah Claude Makélélé.
Bahkan, peran gelandang bertahan modern sering disebut sebagai "Makélélé Role" karena pengaruh besarnya dalam taktik bertahan.
Pemain asal Prancis ini adalah kunci sukses Real Madrid Galacticos dan Chelsea era Jose Mourinho.
Ia mungkin bukan pemain yang mencetak banyak gol atau membuat assist, tetapi perannya dalam menghentikan serangan lawan, memenangkan duel bola, dan memberikan keseimbangan bagi tim sangatlah krusial.
Berkat Makélélé, banyak klub mulai menyadari betapa pentingnya memiliki CDM yang solid. Tanpa dia, para playmaker seperti Zidane dan Lampard mungkin tidak bisa bermain sebebas yang mereka lakukan. Tak heran jika Makélélé dianggap sebagai salah satu CDM terbaik di dunia sepanjang sejarah.
Saat berbicara tentang gelandang bertahan yang memiliki energi tanpa batas, nama N’Golo Kanté langsung muncul di benak banyak orang.
Pemain Prancis ini memiliki etos kerja yang luar biasa, mampu berlari sepanjang pertandingan tanpa kehilangan efektivitasnya.
Kanté menjadi kunci dalam dua kisah sukses terbesar di sepak bola modern:
Membantu Leicester City menjuarai Premier League 2015-16, sebuah pencapaian yang nyaris mustahil terjadi.
Menjadi pemain terbaik dalam kemenangan Chelsea di Liga Champions 2021, di mana ia mendominasi lini tengah sendirian.
Di level internasional, Kanté juga membantu Prancis menjuarai Piala Dunia 2018, sekali lagi membuktikan betapa pentingnya perannya sebagai CDM terbaik di dunia dalam era sepak bola modern.
Para gelandang bertahan mungkin tidak selalu mendapatkan sorotan seperti striker atau playmaker, tetapi mereka adalah jantung dari permainan sebuah tim. Tanpa mereka, tim bisa kehilangan keseimbangan dan rentan terhadap serangan lawan.
Dari Matthäus yang serba bisa, Rijkaard yang elegan, Busquets yang cerdas, Makélélé yang revolusioner, hingga Kanté yang tak kenal lelah, kelima pemain ini telah membuktikan bahwa CDM terbaik di dunia bisa menjadi pembeda dalam permainan.
Dengan sepak bola yang terus berkembang, siapa gelandang bertahan berikutnya yang akan masuk dalam daftar legenda ini? Kita tunggu saja bintang berikutnya yang akan menguasai lini tengah!