Apa Itu UEFA Europa League dan Bagaimana Sejarahnya?
Apa Itu UEFA Europa League dan Bagaimana Sejarahnya? – UEFA Europa League merupakan salah satu turnamen sepak bola antarklub paling bergengsi di Eropa.
Meski berada satu tingkat di bawah UEFA Champions League, Europa League tetap menjadi panggung penting bagi klub-klub dari berbagai negara untuk bersaing memperebutkan gelar di level kontinental.
Sejak pertama kali digelar pada 1971, kompetisi ini telah mengalami banyak perubahan format, melahirkan berbagai juara legendaris, dan menghadirkan pertandingan-pertandingan yang sulit dilupakan.
Nah, buat kamu yang mau tau apa itu UEFA Europa League dan bagaimana sejarahnya, mari simak penjelasannya di artikel Mansion Sports dibawah ini!
Apa Itu UEFA Europa League?
UEFA Europa League (UEL), yang lebih dikenal dengan sebutan Europa League, merupakan kompetisi sepak bola antarklub Eropa yang diselenggarakan setiap tahun oleh Union of European Football Associations (UEFA) sejak 1971. Turnamen ini diperuntukkan bagi klub-klub Eropa yang memenuhi persyaratan untuk berpartisipasi.
Dalam hierarki kompetisi antarklub Eropa, Europa League menempati posisi kedua. Turnamen ini berada di bawah UEFA Champions League dan satu tingkat di atas UEFA Conference League.
Kompetisi tersebut pertama kali diperkenalkan pada 1971 dengan nama UEFA Cup atau Piala UEFA. Kehadirannya menggantikan Inter-Cities Fairs Cup, sebuah turnamen sepak bola antarklub yang sebelumnya berlangsung di Eropa.
Format kompetisi kemudian mengalami perubahan. Pada musim 2004–05, UEFA menambahkan fase grup sebelum babak gugur dimulai.
Selanjutnya, pada 2009, turnamen ini resmi menggunakan nama UEFA Europa League setelah dilakukan perubahan format yang mencakup penggabungan dengan UEFA Intertoto Cup. Perubahan tersebut juga memperluas fase grup dan menyesuaikan sistem kualifikasi peserta.
Memasuki musim 2024–25, UEFA kembali melakukan pembaruan dengan mengganti fase grup menjadi fase liga yang diikuti oleh 36 tim.
Klub yang berhasil menjuarai UEFA Europa League berhak tampil pada UEFA Super Cup musim berikutnya dan mendapatkan tiket ke UEFA Champions League.
Selain itu, para juara Europa League juga pernah berhadapan dengan pemenang CONMEBOL Copa Sudamericana dalam ajang UEFA–CONMEBOL Club Challenge. Pertemuan terbaru dalam kompetisi tersebut berlangsung pada 2023.
Sejarah UEFA Europa League
Perjalanan UEFA Europa League telah berlangsung selama lebih dari lima dekade. Sejak masih bernama UEFA Cup, kompetisi ini terus berkembang dan menjadi tempat lahirnya berbagai klub juara dari sejumlah liga top Eropa.
1955–1971: Berawal dari Inter-Cities Fairs Cup
Sebelum UEFA Cup dibentuk, Eropa telah memiliki kompetisi antarklub bernama Inter-Cities Fairs Cup. Turnamen tersebut berlangsung pada 1955 hingga 1971 dan menjadi cikal bakal lahirnya UEFA Cup.
Pada edisi pertamanya, kompetisi ini hanya diikuti oleh 11 tim. Namun, jumlah peserta terus bertambah hingga mencapai 64 klub pada edisi terakhir musim 1970–71.
Setelah itu, Inter-Cities Fairs Cup digantikan oleh UEFA Cup. Kompetisi baru ini hadir sebagai turnamen resmi antarklub yang diselenggarakan oleh konfederasi dengan peraturan, format pertandingan, serta komite disiplin yang berbeda.
Pada 2009, UEFA menjelaskan bahwa Inter-Cities Fairs Cup telah menjadi kompetisi yang sangat sukses.
Namun, pada akhirnya Komite Eksekutif UEFA menilai bahwa turnamen sebesar itu sebaiknya dikelola langsung oleh UEFA agar penerapan peraturan, urusan perwasitan, dan masalah disiplin dapat berjalan dengan standar yang seragam.
Sejak berada di bawah pengelolaan UEFA, kompetisi tersebut secara bertahap semakin berkembang dan memperoleh prestise yang lebih tinggi.
1971–1979: UEFA Cup Resmi Digelar
UEFA Cup pertama kali diselenggarakan pada musim 1971–72. Edisi perdana tersebut langsung menghadirkan final yang mempertemukan dua klub Inggris, Wolverhampton Wanderers dan Tottenham Hotspur. Tottenham berhasil keluar sebagai juara pertama.
Pada 1973, klub Inggris lainnya, Liverpool, sukses mengalahkan Borussia Mönchengladbach di partai final.
Mönchengladbach kemudian bangkit dengan meraih gelar juara pada 1975 dan 1979. Mereka juga berhasil mencapai final pada 1980.
Sementara itu, Feyenoord menjadi juara pada 1974 setelah mengalahkan Tottenham Hotspur dengan agregat 4–2. Pertandingan pertama di London berakhir imbang 2–2, sebelum Feyenoord memastikan kemenangan 2–0 ketika bermain di Rotterdam.
Liverpool kembali mengangkat trofi pada 1976 setelah mengalahkan Club Brugge di final. Gelar tersebut menjadi yang kedua bagi klub asal Inggris itu di kompetisi UEFA Cup.
1980–1989: Dominasi IFK Göteborg, Real Madrid, dan Awal Kebangkitan Klub Italia
Pada dekade 1980-an, IFK Göteborg dan Real Madrid menjadi dua klub yang berhasil meraih gelar UEFA Cup sebanyak dua kali.
IFK Göteborg keluar sebagai juara pada 1982 dan 1987. Sementara itu, Real Madrid berhasil mengangkat trofi secara beruntun pada 1985 dan 1986.
Anderlecht juga tampil konsisten dengan mencapai dua final secara berturut-turut. Klub Belgia tersebut berhasil menjadi juara pada 1983, tetapi harus mengakui keunggulan Tottenham Hotspur pada final 1984.
Tahun 1989 menjadi awal dari dominasi klub-klub Italia di kompetisi ini. Napoli yang diperkuat Diego Maradona berhasil mengalahkan VfB Stuttgart di partai final dan membawa pulang trofi.
Kemenangan tersebut menjadi awal periode panjang ketika klub-klub Italia semakin sering tampil sebagai kekuatan utama UEFA Cup.
1990–1999: Era Keemasan Klub-klub Italia
Memasuki dekade 1990-an, dominasi Italia semakin terlihat. Periode ini bahkan dimulai dengan dua final yang seluruh pesertanya berasal dari Italia.
Pada 1992, Torino berhasil mencapai final, tetapi harus menerima kekalahan dari Ajax melalui aturan gol tandang.
Setahun kemudian, Juventus meraih gelar UEFA Cup untuk ketiga kalinya. Inter Milan kemudian mempertahankan trofi tetap berada di Italia pada 1994.
Final 1995 kembali mempertemukan dua klub Italia. Parma berhasil membuktikan konsistensinya setelah sebelumnya tampil dalam dua final Cup Winners' Cup secara beruntun.
Final 1996 menjadi satu-satunya partai puncak sepanjang dekade tersebut yang tidak melibatkan klub Italia.
Inter Milan kembali mencapai final dalam dua musim berikutnya. Pada 1997, mereka kalah dari Schalke 04 melalui adu penalti.
Namun, setahun kemudian, Inter berhasil menjadi juara setelah memenangkan final yang kembali mempertemukan dua klub Italia. Gelar 1998 tersebut menjadi trofi ketiga mereka dalam kurun waktu delapan tahun.
Parma kemudian menutup dekade dominasi Italia dengan menjadi juara pada 1999. Gelar tersebut juga menjadi kemenangan terakhir klub Italia di UEFA Cup hingga Inter Milan kembali mencapai final pada 2020.
1971–1995: Sistem Kualifikasi Peserta
Sejak kompetisi pertama kali digelar pada 1971, jumlah wakil dari setiap negara yang dapat berpartisipasi bergantung pada peringkat liga domestik masing-masing.
Pada awal penyelenggaraannya hingga 1995, klub yang lolos umumnya merupakan tim yang finis di posisi kedua hingga ketiga, keempat, atau kelima di liga domestik mereka.
Namun, terdapat pengecualian bagi klub yang berhasil menjuarai kompetisi piala domestik pada musim sebelumnya. Klub-klub tersebut biasanya memilih tampil di UEFA Cup Winners' Cup.
1996–1999: Perubahan Jumlah Wakil dan Dampak Champions League
Mulai 1996, UEFA mengizinkan lebih dari satu klub dari setiap negara untuk berpartisipasi di Champions League. Awalnya, dua wakil diperbolehkan tampil pada 1996, kemudian jumlah tersebut meningkat menjadi empat klub untuk liga-liga teratas mulai 1999.
Perubahan ini turut memengaruhi kualitas peserta UEFA Cup. Sejak 1999, klub yang lolos ke kompetisi tersebut umumnya merupakan tim yang finis di posisi kelima atau keenam hingga ketujuh atau kedelapan di liga domestik.
Situasi ini membuat kualitas dan prestise UEFA Cup mengalami penurunan dibandingkan Champions League, karena semakin banyak klub papan atas yang mendapatkan kesempatan tampil di kompetisi kasta tertinggi Eropa tersebut.
1994–2024: Perubahan Sistem bagi Klub yang Tersingkir dari Champions League
Pada musim 1994–95, klub yang tersingkir pada babak kualifikasi ketiga UEFA Champions League mulai mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan di UEFA Cup.
Aturan tersebut kemudian diperluas pada musim 1999–2000. Sejak saat itu, klub yang finis di posisi ketiga fase grup Champions League juga berhak berpindah ke UEFA Cup.
Sistem tersebut tetap berlaku hingga akhir musim 2023–24. Selama periode 25 tahun penerapannya, tercatat sembilan klub berhasil menjuarai UEFA Cup setelah sebelumnya tersingkir sebagai peringkat ketiga di fase grup Champions League.
Selain itu, kompetisi UEFA Cup Winners' Cup juga resmi dilebur ke dalam UEFA Cup mulai musim 1998–99.
2000–2009: Munculnya Juara dari Berbagai Negara
Memasuki era 2000-an, UEFA Cup menghadirkan sejumlah juara dari berbagai negara.
Pada 2000, Galatasaray berhasil mengangkat trofi setelah mengalahkan Arsenal. Mereka mencatatkan sejarah sebagai klub pertama yang memulai musim dari Champions League, kemudian menjadi juara UEFA Cup. Galatasaray juga menjadi klub Turki pertama yang berhasil memenangkan kompetisi tersebut.
Liverpool kembali meraih gelar pada 2001, sekaligus mengoleksi trofi ketiganya di turnamen ini.
Setahun kemudian, Feyenoord menjadi juara untuk kedua kalinya setelah mengalahkan Borussia Dortmund.
Porto kemudian meraih gelar pada 2003 dan kembali menjadi juara pada 2011. Pada kemenangan keduanya tersebut, Porto mengalahkan sesama klub Portugal, Braga, di partai final.
Pada 2004, trofi kembali dibawa ke Spanyol setelah Valencia keluar sebagai juara. Setahun berikutnya, CSKA Moscow berhasil memenangkan kompetisi.
Sevilla kemudian mencuri perhatian dengan menjadi juara dalam dua musim berturut-turut, yakni 2006 dan 2007. Pada final 2007, mereka mengalahkan sesama klub Spanyol, Espanyol.
Zenit Saint Petersburg menyusul dengan meraih gelar pada 2008 setelah mengalahkan Rangers di final.
Pada 2009, Shakhtar Donetsk dari Ukraina berhasil menjadi juara. Kemenangan tersebut sekaligus menjadikan mereka klub Ukraina pertama yang memenangkan kompetisi ini.
2009–2012: Perubahan Nama Menjadi UEFA Europa League
Mulai musim 2009–10, UEFA Cup secara resmi berganti nama menjadi UEFA Europa League.
Perubahan tersebut juga disertai pembaruan struktur kompetisi. Pada periode yang sama, UEFA Intertoto Cup yang sebelumnya menjadi turnamen kasta ketiga UEFA dihentikan dan dilebur ke dalam format baru Europa League.
Pada 2010, Atlético Madrid berhasil menjadi juara. Mereka kemudian kembali mengangkat trofi pada 2012 setelah mengalahkan Athletic Bilbao dalam final yang mempertemukan dua klub Spanyol.
2013–2016: Dominasi Sevilla dan Rekor Gelar Beruntun
Pada 2013, Chelsea mencatatkan sejarah sebagai klub pertama yang berhasil menjuarai UEFA Cup atau Europa League pada musim setelah menjadi juara Champions League.
Setahun kemudian, Sevilla kembali menjadi kampiun. Mereka mengalahkan Benfica melalui adu penalti pada final 2014 dan meraih gelar ketiganya dalam kurun waktu delapan tahun.
Sevilla kemudian mempertahankan gelar pada 2015 setelah memenangkan kompetisi untuk keempat kalinya.
Pencapaian luar biasa tersebut berlanjut pada 2016. Sevilla kembali menjadi juara untuk ketiga kalinya secara beruntun setelah mengalahkan Liverpool di partai final.
Keberhasilan itu membuat Sevilla semakin kokoh sebagai klub tersukses dalam sejarah kompetisi UEFA Cup dan Europa League, dengan koleksi lima gelar pada saat itu.
2018–2020: Sevilla Perpanjang Rekor dan Final Bersejarah
Atlético Madrid kembali menjadi juara pada 2018, sekaligus meraih gelar ketiganya di kompetisi ini.
Pada 2019, Chelsea dan Arsenal menciptakan sejarah dengan bertemu dalam final sesama klub London. Pertandingan tersebut menjadi final pertama dalam sejarah UEFA Cup atau Europa League yang mempertemukan dua tim dari kota yang sama.
Sevilla kemudian kembali memperpanjang rekor gelarnya pada 2020. Mereka berhasil mengalahkan Inter Milan dan meraih trofi keenam, menjadikan klub Spanyol tersebut semakin sulit dikejar dalam daftar juara sepanjang masa.
2023: Sevilla Raih Gelar Ketujuh
Sevilla kembali mencatatkan sejarah pada 2023 dengan memenangkan UEFA Europa League untuk ketujuh kalinya.
Pencapaian tersebut semakin menegaskan dominasi mereka sebagai klub paling sukses dalam sejarah kompetisi ini.
Selain Sevilla, Tottenham Hotspur juga memiliki catatan unik. Kedua klub tersebut merupakan satu-satunya tim yang pernah menjuarai UEFA Cup atau Europa League dalam tiga dekade berbeda.