Diintai Kasus Hukum, Infantino Maju Lagi Jadi Presiden FIFA
Mansion Sports – Gianni Infantino menolak untuk mundur dari perannya sebagai sosok paling berkuasa dalam sepak bola dunia, dengan FIFA memastikan bahwa ia akan melanjutkan pencalonannya untuk pemilihan kembali.
Pria berusia 56 tahun tersebut tetap bertekad memimpin badan sepak bola dunia itu untuk masa jabatan empat tahun berikutnya, meskipun ancaman hukum dan pemberontakan internal terhadap kepemimpinannya terus meningkat.
Infantino Tetap Bertahan di Tengah Tekanan yang Semakin Besar
FIFA secara resmi kembali menegaskan bahwa Infantino akan mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga sebagai presiden, meskipun terdapat gelombang oposisi luas dan tuntutan agar ia mengundurkan diri dari jabatannya.
Administrator Swiss-Italia tersebut berada di bawah tekanan besar sejak runtuhnya skema kontroversial FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah proyek yang berupaya menjual saham minoritas dalam operasi komersial dan penyelenggaraan Piala Dunia putra dan putri kepada investor swasta.
Seorang juru bicara badan tersebut mengonfirmasi niat sang presiden kepada The Athletic, dengan menyatakan: "Presiden FIFA mengumumkan pada April bahwa ia akan mencalonkan diri untuk pemilihan kembali pada 2027. Tentu saja, tidak ada yang berubah. Tuan Infantino akan mencalonkan diri untuk pemilihan kembali."
Runtuhnya FIFA Forward Enterprise
Proposal FFE menjadi katalisator bagi perang saudara yang sedang berlangsung di dalam hierarki sepak bola, yang menyebabkan terbentuknya aliansi konfederasi yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menentang kepemimpinan FIFA.
Ketika rencana tersebut diperkenalkan, UEFA mengumumkan bahwa negara-negara anggotanya akan memboikot kompetisi FIFA, dengan menyatakan bahwa mereka "secara bulat dan tegas menolak proposal FIFA."
Badan sepak bola Amerika Selatan CONMEBOL juga menyampaikan pandangannya mengenai perubahan arah komersial tersebut, dengan menegaskan bahwa keputusan keuangan "harus selalu melayani kepentingan sepak bola dan tidak pernah mengesampingkan esensinya."
Menghadapi blokade total dari kekuatan-kekuatan utama dalam sepak bola, Infantino terpaksa mundur dan akhirnya mengonfirmasi bahwa proposal tersebut akan dibatalkan.
Respons Langsung dari Presiden FIFA
Dalam pernyataannya yang mengonfirmasi berakhirnya proyek FFE, Infantino mengakui perpecahan mendalam yang telah ditimbulkan oleh rencana tersebut di antara para pemangku kepentingan sepak bola dunia.
Ia mengatakan: "Setelah mendengarkan dengan saksama semua pandangan, menjadi jelas bahwa proyek tersebut telah menciptakan perpecahan dengan sifat yang, terlepas dari tingkat dukungan yang ada, tidak lagi sesuai dengan kepentingan tujuan yang sejak awal telah ditetapkan."
Infantino selanjutnya mengomentari rencananya untuk memperbaiki perpecahan tersebut, dengan menambahkan: "Ke depan, niat saya adalah menyatukan kembali semua pihak yang berkepentingan dalam beberapa hari dan minggu mendatang dengan semangat kepentingan bersama terhadap olahraga kita, serta dengan tujuan untuk terus mengembangkan sepak bola di seluruh dunia, khususnya di negara-negara yang paling membutuhkan dukungan kami."
Kontroversi dan Hubungan Politik Menjadi Sorotan
Di luar usaha komersial, masa jabatan Infantino telah diwarnai kontroversi yang kerap terjadi, mulai dari harga tiket yang melonjak pada Piala Dunia terbaru hingga dugaan campur tangan dalam masalah disipliner.
Keputusan untuk membatalkan larangan bermain satu pertandingan terhadap penyerang USMNT Folarin Balogun mendapat kritik signifikan, terutama karena keputusan tersebut muncul setelah laporan mengenai percakapan antara Infantino dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.